KebonCinta.com - Satu pertanyaan diketik, lalu beberapa detik kemudian muncul penjelasan panjang dengan bahasa yang rapi. Bagi murid yang sedang kesulitan memahami pelajaran, kemampuan kecerdasan buatan atau AI seperti ini tentu terasa membantu.
Namun, kelancaran menjawab tidak selalu menunjukkan bahwa sistem memahami persoalan secara utuh. Murid perlu mengenali batas kemampuan AI agar dapat menentukan kapan jawabannya berguna dan kapan membutuhkan penjelasan tambahan dari guru.
Guru dapat mengenalkan AI generatif sebagai asisten belajar yang mampu mengolah banyak informasi dan membantu menyusun penjelasan. Asisten ini bisa diminta membuat contoh, merangkum bacaan, atau menawarkan susunan ide.
Baca Juga: Keluar Flek Coklat Sebelum atau Sesudah Haid, Apakah Masih Wajib Sholat?
Meski demikian, analogi tersebut perlu diberi batas. AI bukan seseorang yang benar-benar membaca dan mengalami kehidupan seperti manusia. Jawaban yang dihasilkan bertumpu pada pola yang dipelajari selama pelatihan serta informasi yang tersedia saat digunakan.
Bayangkan murid meminta penjelasan tentang keadaan taman sekolah. Tanpa foto, catatan pengamatan, atau informasi lain, AI tidak mengetahui kondisi taman tersebut. Sistem mungkin memberikan gambaran umum, tetapi gambaran itu belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Contoh sederhana ini membantu murid memahami bahwa kemampuan menghasilkan jawaban berbeda dengan memiliki bukti tentang suatu keadaan.
Tidak semua aplikasi AI memiliki kemampuan yang sama. Ada yang dapat mengolah gambar atau mencari informasi melalui internet, sementara layanan lain memiliki akses yang lebih terbatas.
Karena itu, anggapan bahwa AI mengetahui segala sesuatu dapat membuat murid salah menempatkan kepercayaan. Sistem yang menerima foto pun belum tentu mampu menafsirkan seluruh detail secara tepat.
Baca Juga: Media Sosial Berlebihan Bisa Ganggu Mental Remaja, Kenali 6 Dampak yang Perlu Diwaspadai
Dalam AI Competency Framework for Students, UNESCO menekankan pentingnya pengetahuan dasar tentang AI dan kemampuan menilai solusi AI secara kritis. Murid diposisikan sebagai pengguna yang bertanggung jawab sekaligus memiliki peran aktif dalam pemanfaatan teknologi.
Pemahaman tersebut dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: informasi apa yang dimiliki sistem, dan bagian mana yang belum diketahuinya?
Mengenalkan keterbatasan AI juga berarti membantu murid memilih tugas yang sesuai untuk teknologi tersebut.
Sebagai contoh, AI dapat menawarkan kerangka laporan pengamatan tanaman. Namun, hasil pengamatan—seperti tinggi tanaman, perubahan warna daun, dan kondisi tanah—tetap perlu diperoleh murid melalui kegiatan nyata.
UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research mendorong penggunaan AI yang berpusat pada manusia, dengan perhatian pada kesesuaian pedagogis dan usia pengguna.
Baca Juga: Fungsi Nilai TKA SMA 2026 yang Wajib Diketahui Siswa yang Perlu Diperhatikan
Dalam kegiatan belajar, guru dapat menerapkannya dengan menjelaskan tujuan penggunaan AI sebelum murid mulai mencoba. Dengan memahami batas kemampuan sistem, murid memiliki dasar untuk menggunakan bantuan AI secara tepat sambil tetap memegang tanggung jawab atas pekerjaan yang dibuatnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir