KebonCinta.com — Ribuan pondok pesantren di Jawa Timur berada di wilayah yang memiliki potensi risiko bencana kategori tinggi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur mencatat terdapat sekitar 7.430 pesantren di provinsi tersebut.
Setelah lokasi pesantren dipadukan dengan peta multiancaman bencana, sebanyak 5.930 pesantren diketahui berada di wilayah berpotensi risiko tinggi.
Data tersebut mendorong BPBD Jawa Timur bersama Siap Siaga Jatim merancang program Pesantren Tangguh Bencana atau Pestana.
“Setelah kita overlay dengan multihazard bencana, tercatat sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko tinggi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto.
Pernyataan tersebut tidak berarti seluruh bangunan pesantren dinyatakan tidak aman.
Pemetaan yang dilakukan berkaitan dengan lokasi pesantren dan potensi ancaman bencana di wilayah masing-masing.
Jenis ancaman dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Karena itu, kesiapan pesantren perlu disesuaikan dengan karakter bencana yang mungkin terjadi di lokasi masing-masing.
Program Pestana dirancang sebagai panduan bagi pondok pesantren agar lebih siap menghadapi kondisi darurat.
Gagasan tersebut juga menjadi refleksi dari sejumlah kejadian yang menimpa lingkungan pesantren selama setahun terakhir.
Salah satunya adalah runtuhnya bangunan mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo pada September 2025.
BPBD menilai kejadian tersebut menjadi salah satu pelajaran penting mengenai perlunya perhatian terhadap keselamatan di lingkungan pendidikan berbasis asrama.
Pesantren memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sekolah reguler.
Baca Juga: Puasa Senin Kamis Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Keistimewaan dan Hikmahnya
Santri dapat tinggal, belajar, beribadah dan melakukan berbagai kegiatan selama 24 jam di satu kawasan.
Karena itu, prosedur menghadapi bencana perlu dipahami bukan hanya pengelola pesantren tetapi juga para santri.
Data Kementerian Agama Jawa Timur mencatat jumlah santri di provinsi tersebut sekitar 660.437 orang.
Besarnya jumlah tersebut membuat mitigasi bencana menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Pelatihan dapat mencakup pemahaman jalur evakuasi, lokasi titik kumpul dan langkah pertama ketika terjadi situasi darurat.
Pengelola pesantren juga perlu memahami kondisi bangunan serta potensi ancaman di lingkungan sekitar.
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim Imam Turmidi mendukung pembentukan Pestana.
Ia menilai jumlah santri yang sangat besar membuat kesiapsiagaan perlu mendapatkan perhatian serius.
RMI PWNU Jawa Timur juga mendukung rencana tersebut.
Ketua RMI PWNU Jatim KH Abdul Hakim Hidayat menilai pelatihan kebencanaan penting agar pondok semakin tangguh dan siap menghadapi kondisi darurat.
Penyusunan pedoman tidak dilakukan BPBD sendiri.
FGD melibatkan unsur Kemenag, RMI, LPBI NU, MDMC Muhammadiyah, Forum Pengurangan Risiko Bencana, BPBD kabupaten/kota hingga perwakilan pondok pesantren.
Beberapa pesantren yang ikut terlibat antara lain Pondok Pesantren Langitan Tuban, Amanatul Ummah dan At-Taroqi Sampang.
Keterlibatan berbagai pihak diharapkan menghasilkan pedoman yang dapat diterapkan sesuai kondisi nyata pesantren.
Mitigasi bencana pada akhirnya bukan hanya persoalan alat maupun bangunan.
Pengetahuan dan kesiapan orang yang berada di dalam lingkungan pesantren menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi risiko korban ketika bencana benar-benar terjadi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir