KebonCinta.com — Pemerintah Kabupaten Majalengka membuka kesempatan baru bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi sekaligus mendapatkan pengalaman kerja internasional.
Sebanyak 100 mahasiswa disiapkan mengikuti program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja.
Program tersebut diluncurkan Pemkab Majalengka bersama Universitas Teknologi Bandung pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Peserta diprioritaskan berasal dari keluarga kelompok desil 1 hingga desil 4.
Kelompok tersebut merupakan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi terbawah yang membutuhkan dukungan agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi.
“Pendidikan harus menjadi salah satu prioritas,” ujar Bupati Majalengka Eman Suherman.
Ia mengatakan pemerintah ingin anak-anak Majalengka dari keluarga kurang mampu tetap mempunyai kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Program tersebut tidak hanya memberikan akses perkuliahan.
Peserta juga dipersiapkan mendapatkan pengalaman bekerja di Jepang.
Sebelum berangkat, 100 peserta akan menjalani pendidikan dan pelatihan intensif selama sekitar enam bulan.
Materi pelatihan meliputi kemampuan bahasa Jepang, kedisiplinan, pembentukan mental serta keterampilan yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
Rektor Universitas Teknologi Bandung Muhammad Nasir mengatakan kampus akan ikut mendampingi proses persiapan tersebut.
“Kerja sama tersebut dapat memperluas kesempatan masyarakat kurang mampu mengenyam pendidikan tinggi,” ujarnya.
Selain pendidikan, peserta diharapkan mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja internasional.
Program Satu Desa Satu Sarjana sebelumnya berfokus pada pemberian akses perguruan tinggi kepada masyarakat desa.
Skema terbaru kemudian diperluas dengan menambahkan kesempatan bekerja.
Tujuannya agar peserta tidak hanya memperoleh ijazah ketika menyelesaikan pendidikan.
Pengalaman kerja dan keterampilan praktis diharapkan menjadi modal bagi mereka ketika kembali ke Majalengka.
Program tersebut juga dilatarbelakangi kondisi pendidikan masyarakat di daerah.
Rata-rata lama sekolah masyarakat Majalengka masih berada pada sekitar 7,81 tahun atau setara kelas satu SMP.
Sementara Indeks Pembangunan Manusia Majalengka tercatat 72,37.
Pemkab menargetkan sedikitnya 343 sarjana dari 334 desa dan kelurahan dalam jangka waktu lima tahun.
Hingga 2026, sebanyak 170 sarjana disebut telah menjadi bagian dari capaian program.
Selain memberikan pelatihan, pemerintah daerah juga melakukan koordinasi dengan pihak perbankan terkait pembiayaan keberangkatan peserta.
Skema tersebut disiapkan agar kebutuhan keberangkatan tidak sepenuhnya harus ditanggung keluarga.
Meski menawarkan peluang kerja di luar negeri, peserta tetap harus mengikuti proses yang telah ditetapkan pemerintah dan mitra program.
Persiapan bahasa, mental dan keterampilan menjadi bagian penting karena kehidupan dan budaya kerja di Jepang berbeda dengan Indonesia.
Pemkab berharap pengalaman tersebut nantinya dapat menghasilkan generasi muda yang lebih mandiri.
Setelah kembali ke Majalengka, lulusan diharapkan mampu menggunakan ilmu dan pengalaman kerja untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga serta berkontribusi di daerah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir