KebonCinta.com — Pemerintah Kabupaten Majalengka membuka peluang bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus memperoleh pengalaman bekerja di Jepang.
Pada tahap awal, sebanyak 100 mahasiswa disiapkan mengikuti program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja.
Program tersebut merupakan pengembangan dari Satu Desa Satu Sarjana yang sebelumnya berfokus memperluas akses masyarakat terhadap perguruan tinggi.
Kini peserta tidak hanya dipersiapkan menjadi mahasiswa.
Mereka juga mendapatkan pembekalan agar mempunyai kemampuan yang dapat digunakan ketika memasuki lingkungan kerja internasional.
“Pendidikan harus menjadi salah satu prioritas,” ujar Bupati Majalengka Eman Suherman.
Ia menjelaskan pemerintah ingin anak-anak Majalengka, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
Program dijalankan Pemkab Majalengka bersama Universitas Teknologi Bandung atau UTB.
Peserta diprioritaskan berasal dari keluarga kelompok desil 1 hingga 4.
Kelompok tersebut secara umum merupakan masyarakat yang berada pada lapisan kesejahteraan terbawah berdasarkan data sosial ekonomi.
Sebelum menjalani pendidikan dan pekerjaan di Jepang, 100 peserta akan mengikuti masa persiapan selama sekitar enam bulan.
Pembekalan mencakup kemampuan bahasa Jepang.
Selain itu, peserta akan mendapatkan pelatihan mental, kedisiplinan dan keterampilan kerja.
Persiapan tersebut penting karena kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus pekerja di negara lain membutuhkan kemampuan beradaptasi yang tidak sedikit.
Perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan utama.
Kemampuan berkomunikasi diperlukan bukan hanya ketika mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga saat bekerja dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kedisiplinan juga menjadi bagian penting dari pembekalan.
Peserta harus mampu mengatur waktu antara pendidikan dan tanggung jawab pekerjaan.
Pemkab Majalengka berharap pengalaman tersebut nantinya dapat memberikan nilai tambah ketika peserta kembali ke daerah.
Mahasiswa tidak hanya membawa ijazah.
Mereka diharapkan mempunyai pengalaman kerja, kemampuan bahasa serta keterampilan praktis yang dapat digunakan untuk membangun kemandirian ekonomi.
Program ini juga menjadi salah satu upaya meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat Majalengka.
Rata-rata lama sekolah masyarakat Majalengka saat ini tercatat sekitar 7,81 tahun.
Angka tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan untuk memperluas akses pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Dalam lima tahun, pemerintah daerah menargetkan sedikitnya 343 sarjana dari 334 desa dan kelurahan.
Hingga 2026, capaian sementara telah mencapai sekitar 170 sarjana.
Pemkab Majalengka juga melakukan koordinasi dengan sektor perbankan terkait pembiayaan keberangkatan.
Tujuannya agar seluruh kebutuhan tidak langsung menjadi beban keluarga peserta.
Namun calon peserta tetap perlu memahami seluruh skema pembiayaan secara lengkap sebelum mengikuti program.
Keluarga juga disarankan memastikan mekanisme keberangkatan, pendidikan dan pekerjaan dilakukan melalui jalur resmi.
Program kuliah sambil bekerja di Jepang dapat menjadi kesempatan besar apabila disiapkan dengan matang.
Bagi 100 peserta tahap pertama, enam bulan masa pembekalan akan menjadi langkah awal sebelum memasuki lingkungan pendidikan dan pekerjaan yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya di Majalengka.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir