KebonCinta.com – Ketika keluarga, tetangga, atau sahabat mengalami sakit, salah satu bentuk perhatian yang dapat diberikan adalah menjenguk dan mendoakannya.
Dalam Islam, menjenguk orang sakit dikenal sebagai iyadatul maridh, yaitu mengunjungi seseorang yang sedang mengalami sakit dengan tujuan memberikan perhatian, dukungan, serta doa.
Amalan tersebut memiliki kedudukan penting dalam hubungan antarsesama Muslim.
Namun, menjenguk orang sakit tidak hanya berkaitan dengan hadir secara langsung. Ada sejumlah adab yang perlu diperhatikan agar kunjungan memberikan manfaat dan tidak justru menambah beban bagi pasien.
Misalnya, seseorang sebaiknya tidak berkunjung terlalu lama, mengganggu waktu istirahat, atau menanyakan kondisi kesehatan secara berlebihan.
Berikut penjelasan mengenai anjuran menjenguk orang sakit, tata cara pelaksanaan, bacaan doa, serta sikap yang perlu diperhatikan.
Menjenguk orang sakit termasuk amalan yang dianjurkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Dalam Shahih Al-Bukhari nomor 1240, terdapat hadis yang menjelaskan sejumlah hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya.
Di antaranya adalah menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketika seseorang sedang sakit, perhatian dari keluarga dan sahabat dapat menjadi bentuk dukungan.
Namun, kunjungan tetap harus mempertimbangkan kenyamanan serta keselamatan orang yang sedang menjalani pemulihan.
Sebelum berkunjung, sebaiknya hubungi keluarga atau pihak yang mendampingi pasien.
Tanyakan apakah pasien sedang dapat menerima tamu.
Tidak semua orang sakit berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk dikunjungi.
Sebagian pasien membutuhkan istirahat penuh, menjalani prosedur medis, atau memiliki kondisi yang mengharuskan pembatasan kunjungan.
Jika keluarga meminta agar kunjungan ditunda, keputusan tersebut perlu dihormati.
Menunda kunjungan bukan berarti mengabaikan anjuran agama.
Seseorang tetap dapat memberikan dukungan melalui doa, pesan singkat, atau bantuan lain yang dibutuhkan.
Waktu berkunjung perlu disesuaikan dengan keadaan pasien.
Jika pasien sedang dirawat di rumah sakit, ikuti jadwal kunjungan yang ditetapkan fasilitas kesehatan.
Jangan memaksa masuk di luar waktu yang diperbolehkan.
Bagi pasien yang menjalani perawatan di rumah, tanyakan kapan waktu yang paling nyaman.
Hindari berkunjung ketika pasien sedang tidur atau menjalani tindakan medis.
Kunjungan juga tidak perlu berlangsung terlalu lama.
Dalam penjelasan mengenai adab menjenguk orang sakit yang dimuat NU Online Jawa Barat, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya tidak terlalu lama berada di sisi pasien agar tidak membuatnya merasa terbebani.
Ketika bertemu pasien, mulailah dengan memberikan salam sesuai keadaan.
Kemudian, tanyakan kabarnya dengan lembut.
Misalnya, "Bagaimana keadaan hari ini? Semoga Allah memberikan kesembuhan."
Tidak perlu langsung menanyakan seluruh riwayat penyakit atau hasil pemeriksaan medis.
Sebagian orang mungkin merasa nyaman bercerita, tetapi sebagian lainnya ingin menjaga kondisi kesehatannya sebagai urusan pribadi.
Karena itu, dengarkan apabila pasien ingin berbicara dan hormati jika ia memilih beristirahat.
Salah satu doa yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW ketika menjenguk orang sakit adalah:
لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Latin: La ba'sa, thahurun insya Allah.
Artinya: "Tidak apa-apa, semoga sakit ini menjadi penyucian, insya Allah."
Doa tersebut terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan dijelaskan pula oleh NU Online sebagai salah satu bacaan ketika menjenguk orang sakit.
Kalimat tersebut mengandung harapan baik dan penghiburan bagi seseorang yang sedang mengalami sakit.
Namun, doa tidak boleh digunakan untuk meremehkan penderitaan pasien.
Jika pasien sedang merasakan sakit berat, tetap berikan perhatian dan dukungan yang sesuai.
Selain bacaan sebelumnya, terdapat doa lain yang diajarkan Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Latin: Allahumma rabban-nasi, adzhibil-ba'sa, isyfi antasy-syafi, la syifa'a illa syifa'uka, syifa'an la yughadiru saqama.
Artinya: "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, karena Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."
Doa tersebut mempunyai dasar dalam riwayat hadis dan dimuat dalam kumpulan doa NU Online.
Bacaan tersebut dapat diamalkan ketika mendoakan orang sakit.
Selain menggunakan bahasa Arab, seseorang juga dapat menyampaikan permohonan kesembuhan dengan bahasa yang dipahami.
Baca Juga: Kewajiban Menjawab Salam dalam Islam, Lengkap dengan Dalil dan Hadis
Ketika bertemu orang sakit, sebagian pengunjung mungkin ingin mengetahui penyebab penyakit, hasil pemeriksaan, dan pengobatan yang sedang dijalani.
Namun, tidak semua pertanyaan perlu disampaikan.
Pasien mungkin sedang kelelahan atau belum siap membicarakan kondisi kesehatannya.
Daripada bertanya secara terus-menerus, berikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan hal yang ingin diceritakan.
Jika keluarga sudah memberikan informasi mengenai keadaan pasien, tidak perlu meminta pasien mengulang seluruh penjelasan tersebut.
Sikap ini membantu menjaga tenaga dan kenyamanannya.
Kesalahan yang terkadang terjadi ketika menjenguk orang sakit adalah membandingkan penyakit pasien dengan pengalaman orang lain.
Misalnya, seseorang mengatakan bahwa saudaranya pernah mengalami penyakit serupa dengan kondisi yang jauh lebih buruk.
Meskipun bermaksud berbagi pengalaman, cerita tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pasien.
Begitu pula memberikan ramalan mengenai kemungkinan kesembuhan tanpa dasar medis.
Sebaiknya hindari pernyataan yang menimbulkan ketakutan atau rasa bersalah.
Apabila ingin memberikan semangat, gunakan kalimat yang realistis dan penuh perhatian.
Misalnya, "Semoga pengobatannya berjalan baik. Kalau ada sesuatu yang bisa saya bantu, silakan beri tahu."
Ketika mengetahui seseorang sedang sakit, ada kalanya pengunjung langsung menyarankan obat, jamu, atau terapi tertentu.
Padahal, kondisi kesehatan setiap pasien berbeda.
Obat atau bahan tertentu dapat memiliki efek samping atau berinteraksi dengan pengobatan yang sedang dijalani.
Karena itu, jangan menyarankan pasien menghentikan pengobatan dokter atau menggantinya dengan terapi yang belum jelas keamanannya.
Doa dan ikhtiar medis dapat berjalan bersama.
Apabila pasien membutuhkan penjelasan mengenai obat atau perawatan, arahkan kepada dokter maupun tenaga kesehatan yang menanganinya.
Menjenguk orang sakit juga harus mempertimbangkan risiko penularan penyakit.
Jika pengunjung sedang demam, batuk, atau mengalami penyakit menular, sebaiknya tunda kunjungan langsung.
Ikuti aturan kebersihan tangan, penggunaan masker, dan perlindungan lain yang ditetapkan fasilitas kesehatan.
Jangan menyentuh peralatan medis tanpa izin.
Jika pasien memerlukan pembatasan kontak, hormati keputusan tenaga kesehatan.
Kunjungan yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan tidak seharusnya menambah risiko terhadap pasien.
Membawa makanan atau buah merupakan kebiasaan yang sering dilakukan ketika menjenguk orang sakit.
Namun, tidak semua pasien diperbolehkan mengonsumsi makanan tertentu.
Sebagian memiliki pembatasan berdasarkan kondisi penyakit, alergi, atau rencana perawatan.
Karena itu, tanyakan kepada keluarga terlebih dahulu sebelum membawa makanan.
Jika ingin memberikan bantuan, pertimbangkan kebutuhan nyata seperti perlengkapan kebersihan, bantuan transportasi, atau kebutuhan keluarga yang sedang mendampingi pasien.
Bentuk bantuan sebaiknya tidak merepotkan penerima.
Saat menjenguk, hindari mengambil foto atau merekam video tanpa persetujuan.
Jangan mengunggah kondisi pasien ke media sosial hanya karena ingin menyampaikan doa atau informasi.
Keadaan kesehatan merupakan bagian dari privasi seseorang.
Jika keluarga meminta agar kondisi pasien tidak disebarluaskan, keputusan tersebut harus dihormati.
Begitu pula informasi mengenai diagnosis, pengobatan, dan kondisi pribadi lainnya.
Menjaga kehormatan orang sakit merupakan bagian penting dari adab sosial.
Sebagian pasien mungkin membutuhkan bantuan untuk mempersiapkan ibadah.
Jika memungkinkan, keluarga dapat membantu menyiapkan perlengkapan bersuci dan tempat sholat yang sesuai kondisi pasien.
Dalam Islam, terdapat keringanan bagi orang sakit untuk melaksanakan sholat sesuai kemampuan.
Namun, bantuan yang diberikan tidak boleh bertentangan dengan petunjuk medis.
Misalnya, pasien yang tidak diperbolehkan banyak bergerak tidak boleh dipaksa duduk atau berdiri hanya untuk mengikuti gerakan sholat secara normal.
Rincian pelaksanaan sholat ketika sakit dapat dipelajari berdasarkan ketentuan fikih yang berlaku.
Baca Juga: Tata Cara Sholat Saat Sakit: Duduk, Berbaring, dan dengan Isyarat, Lengkap dengan Hukumnya
Pengunjung sebaiknya memperhatikan keadaan pasien selama kunjungan.
Jika pasien terlihat lelah, mengantuk, atau membutuhkan perawatan, kunjungan dapat segera diakhiri.
Tidak perlu menunggu hingga pasien meminta tamu pulang.
Sebelum berpamitan, sampaikan doa kesembuhan dan tawarkan bantuan yang realistis.
Apabila tidak dapat datang secara langsung, dukungan tetap dapat diberikan melalui komunikasi yang tidak mengganggu waktu istirahat.
Menjenguk orang sakit merupakan amalan yang mengajarkan kepedulian dan persaudaraan.
Namun, inti kunjungan bukanlah sekadar menunjukkan bahwa seseorang telah datang.
Yang lebih penting adalah memberikan perhatian sesuai kebutuhan pasien, menjaga kenyamanan, menghormati privasi, dan mendoakan kebaikan.
Dengan memahami adab tersebut, kunjungan dapat menjadi bentuk dukungan yang menenangkan tanpa menambah beban orang yang sedang berjuang menghadapi penyakit.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir